Sabah Sports Website_Indonesian Chess_Crown Gaming_Blackjack calculator

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:188campbell

AkFootball Handicap AnalFootball Handicap AnalysisYsisFootball Handicap Analysisu tFootball Handicap Analysiserdiam. Seluruh indraku bekerja untuk menyimak cerita dari Gegas, tetapi pikiranku menolak memberikan respons apa pun atas informasi yang kuterima.

Terdengar suara bisik-bisik di seberang, mungkin resepsionis sedang menanyakan identitas tamuku.

Dua hari sejak pertemuanku dengan Gegas, aku izin tidak masuk kerja. Badanku terasa sakit dan pikiranku tidak bisa diajak bekerja. Jarak terjauh yang bisa kutempuh dari kasur adalah kamar mandi. Selasa pagi, Kak Canti, kakak ipar Egi meneleponku, mengabarkan tentang acara 40 harian meninggalnya Egi. Sejak hari itu, serangan asam lambung datang bertubi-tubi. Kamarku berbau seperti muntahan basi.

“Ya sering. Banyak cewek cantik ke kantor. Bosku aja cantiknya kayak Angelina Jolie.”

“Terima kasih.”

“Kepo aja.” Aku mengedikkan bahu. “Mungkin kamu pernah lihat cewek di kantor, terus kamu mikir ‘Gila, cantik banget nih cewek!’ Terus kamu jadi suka curi-curi pandang ke dia.”

Seolah terpaksa melakukannya, Gegas mengangguk setengah hati.

Aku membuat gestur ingin muntah. “Bokis banget!”

Seharusnya aku senang, tetapi ini justru menyedihkan. Egi bersamaku bukan karena dia mencintaiku, melainkan karena dia ingin menyenangkan mamanya.

“Egi terima pernyataan cinta gue padahal dia masih sama Seruni?” tanyaku.

Kenapa aku tidak pernah tahu tentang ini? Bahkan sebagai seorang sahabat?

“Ih, serius nih. Pernah nggak?” kejarku.

“Egi dan Seruni ketemu waktu Egi magang di sela-sela skripsi dulu. Mereka jadian nggak lama setelah kita lulus.”

“Baik,” jawabku.

“Wait.” Lagi-lagi aku memotong. “Egi ngajak balikan Seruni setelah Tante Saleha meninggal?”

Aku mengerutkan dahi. Sejak kapan resepsionis di lobi memilih job desc baru menanyakan keadaan penyewa apartemen?

Illustration by Hipwee

Aku ingat sekali kata-kata di surat terakhir Egi untuk Seruni. Kadang ada hal-hal yang nggak perlu diucapkan untuk melindungi hati seseorang. Aku ingin memodifikasinya sedikit. Terkadang, kita tidak perlu tahu semua hal, karena kadang ada hal-hal yang memang sebaiknya tidak kita ketahui.

“Maaf.”

***

Papa mengakhiri wejangannya dengan kalimat, “Yakin saja kalau Tuhan punya rencana lain buat Tara. Sudah, ya? Jangan sedih terus-terusan. Kasihan Egi juga.”

***

“Di bawah ada tamu untuk Ibu Tara. Menurut beliau, ponsel Ibu Tara tidak bisa dihubungi.”

Ah.

“Dari Seruni,” jawab Gegas. “Dia sepupu gue, Ra.”

Bagaimana rasanya mengetahui bahwa tanpa kamu sadari kamu telah melakukan kesalahan dan mungkin menyakiti seseorang? Bagaimana rasanya mengetahui bahwa ternyata kamu adalah penjahatnya?

Gegas menggeleng.

“Tamunya mau diterima atau tidak, Ibu?” tanya resepsionis lagi.

Lelah dengan semua orang yang berusaha menghubungi dan menanyakan keadaanku, kumatikan saja ponselku dan kusimpan di dalam laci. Kamis pagi, saat aku berusaha bertahan hidup dengan menelan sereal, telepon unit apartemenku berbunyi.

Egi yang tengah menyimak jalannya MotoGP di TV sontak menoleh padaku yang duduk di sebelahnya, menyandarkan kepalaku di pundaknya.

Aku menelan ludah. “Oke, Mbak. Tapi saya lagi nggak enak badan dan nggak bisa turun ke bawah. Bisa tolong kasih dia akses untuk naik, Mbak?”

“Yang jelas, itu semua masa lalu, Ra. Udah berakhir.”

Egi tertawa. “Aneh-aneh aja, sih?”

“Siapa, Mbak?”

Bagaimana rasanya mengetahui bahwa dirimulah yang jadi penjahatnya?

“Tahun 2014 adalah tahun terberat buat Egi. Lo tahu, kan? Urusan pekerjaan, pertentangan sama Mas Nusa soal nerusin usaha keluarga, dan kondisi kesehatan Tante Saleha yang memburuk. Then … tahun itu juga lo baru balik dari Belanda. Kita jadi sering nongkrong bareng, hubungan kalian semakin dekat, dan …” Gegas mengedikkan bahu. “Sisanya lo tahu sendiri.”

“Apakah Ibu Tara baik-baik saja?”

“Pak Gegas Pramayudha, Bu,” katanya kemudian.

Padahal, akulah yang menemani Egi begadang di rumah sakit menunggui Tante Saleha. Akulah yang rela ngantor dari rumah sakit menggantikan Egi karena dia ada presentasi penting yang tidak bisa ditunda. Aku juga yang mendampingi Egi di hari kepergian papa dan mamanya. Aku yang membantunya mengurus pemakaman Tante Saleha karena kakak Egi masih berada di luar negeri sementara Egi sendiri sedang tidak bisa memfungsikan pikiran dan fisiknya untuk urusan lain selain berduka. Setelah semua itu, Egi berniat meninggalkanku dan mengejar cinta lamanya? Bagaimana bisa pikiran itu bahkan terlintas di benaknya? Apakah sejak awal, aku memang tidak pernah masuk ke ruang hati Egi?

“Kenapa tiba-tiba nanya begitu, sih?” tanya Egi heran.

Keherananku semakin menjadi-jadi. Gegas? Untuk apa dia datang ke sin … ah! Dari mana dia tahu aku tinggal di sini?

Aku menggeleng dan membuang pandang ke arah daycare yang kini sepi. Bukan. Tidak sesederhana itu. Surat itu adalah bukti bahwa Egi tidak pernah membuang nama Seruni dari hatinya hingga akhir hayat.

“Seruni tahu?” tanyaku spontan.

Rabu siang, papa menelepon untuk mengecek keadaanku. Saat kubilang aku sedang tak enak badan, papa segera mengeluarkan wejangan-wejangan agar aku tidak larut dalam duka. Papa berkata, Egi yang baik pasti juga tidak ingin aku terus-terusan berduka seperti ini. Egi pasti ingin aku melanjutkan hidup dan bahagia.

Perutku yang sempat reda karena konsumsi obat mag kembali bergejolak. Setelah papa mengakhiri pembicaraan, aku tertawa seperti orang gila. Baru berhenti ketika aku muntah lagi.

“Cuma itu yang bisa gue ceritain, Ra. Gue nggak tahu surat-surat yang lo maksud, tapi mungkin itu karena rasa bersalah Egi ke Seruni.”

Sontak aku menegakkan leherku. “Yang benar?”

Aku kembali menatap pria di depanku lekat-lekat. Sekarang aku mengerti kebencian Gegas pada Egi. Tentunya kepadaku juga. Aku ingat pandangan Gegas ketika aku memberitahunya bahwa aku dan Egi jadian. Pasti saat itu, aku berubah menjadi cewek jalang yang merebut pacar orang lain. Pacar sepupunya.

“Iyaaa. Yang cantik banyak, tapi yang pengin aku lihat mukanya pas bangun tidur cuma kamu. Yang pengin aku ajak pusing mikirin pendidikan anak-anak ya cuma kamu.”

“Tunggu,” tahanku. “Lo tahu soal ini dari mana? Bukannya waktu itu hubungan lo sama Egi udah nggak baik?”

“Oh, kalau begitu biar nanti diantar Pak Satpam ke atas, ya, Bu.”

Sesak. Lidah terasa kelu dan air liurku mendadak mengental. Begitu banyak hal yang berkecamuk dalam pikiranku. Ada begitu banyak hal yang ingin kusampaikan, tetapi pada akhirnya aku hanya bisa bergumam.

“Hubungan mereka memang agak complicated. Almarhum Tante Saleha nggak pernah setuju. Lo tahu, kan, segimana protektifnya Tante Saleha soal Egi? Nah, Seruni punya latar belakang yang … rumit,” kata Gegas, bingung mencari kata yang tepat. “Dia lahir di lingkungan yang menurut Tante Saleha kurang baik.”

“Dia tahu beberapa bulan kemudian dan marah besar. Hubungan Egi dan Seruni berhenti di situ, setidaknya dari pihak Seruni—”

Betapa menggelikannya hidup ini. Hatiku begitu sesak, tetapi aku tak bisa mengeluarkan segala sampah di dalam sini tanpa menyebut-nyebut bahwa Egi menjadikanku selingkuhannya tanpa sepengetahuanku. Ingin rasanya aku membunuh pria berengsek itu, tetapi Egi sudah lebih dulu pergi. Meninggalkanku sendiri dengan beban perasaan yang rasanya terlalu sulit kumengerti.

“Waktu Tante Saleha meninggal di tahun 2016, Egi sempat nyoba nemuin Seruni lagi buat memperbaiki hubungan. Dia—”

“Tapi Seruni menolak dengan tegas,” katanya buru-buru. “Saat itu, Seruni juga sudah ketemu sama suaminya sekarang. Tiga bulan setelahnya, Seruni nikah sama Bang Samuel. Jadi, kalau lo tanya apakah Egi selingkuh sama Seruni setelah hubungan mereka berakhir? Ya jawabannya enggak.”

“Egi bilang, kalau dia pacaran sama lo, Tante Saleha nggak akan mikir aneh-aneh lagi, jadi beliau bisa fokus memulihkan kesehatan. Jadi, saat itu Egi menjalin hubungan sama dua orang, lo dan Seruni.”

Gegas mengangguk. “Gue nggak setuju, tapi gue ngerti posisi Egi waktu itu. Tante Saleha selalu sayang sama lo, Ra. Tara yang rajin, Tara yang siswa teladan, Tara yang nggak neko-neko. Dari zaman kita SMA pun, lo udah jadi murid favorit Tante Saleha.”

Illustration by Hipwee

猜你喜欢

Football betting company_Online Gaming Forum_Buy lottery app_Football Handicap Analysis_Blackjack bookmaker advantage

Rata-ratacewekBaccaratSuperandHowtoPlaybaccaratSuperaBaccaratSuperandHowtoPlayndHowtoPla

2021-10-19

Indonesian Football Handicap Analysis_Indonesia_U.S. online casino

BettingplatformwebsitesebenBeBettingplatformwebsitettingplatformwebsitearnyahalinibisadi

2021-10-06

British Gaming Industry_Indonesia Lottery Official Version Download_Indonesian Football Handicap Analysis

FormalBaccaratendofcontentriFormFormalBaccaratalBaccaratanticartwrightRiantibarumengumum

2021-10-02

Online sports betting sites_American gambling_Football Handicap Analysis_Sabah Sports Betting

“BaccaBaccarattrytoplayrattrytoBaccarattrytoplayplayenggakikutapa-apa.Takutnantikuliahny

2021-10-02